Sunday, February 22, 2015



 
 Sejarah Breakdance

Breakdance adalah sebuah tarian jalanan yang berkembang sekitar tahun 1970 yang berasal dari Bronx di New York, Amerika. Pada awalnya, breakdance hanya berkembang di kalangan anak muda Afrika-Amerika dan Puerto Rico (“Breakdance”, Wikipedia). Namun kemudian berkembang hingga ke Los Angeles, dan akhirnya menjadi populer di seluruh dunia . Breakdance disebut juga dengan istilah B-Boying. Sebutan B-Boying pertama kali dikemukakan oleh Kool DJ Herc yang merupakan seorang DJ di Bronx pada masa itu. B-Boys artinya "Break Boys". Disebut "Break Boys" karena mereka menari saat bagian musik turun dimana musik hanya ada ketukan drum atau dikenal dengan istilah break part of music. Akhirnya break part ini dikembangkan oleh DJ hingga pada akhirnya lahirlah musik khas breakdance yang disebut Break Beats (“Sejarah B-Boying di Dunia”). Di kancah internasional, breakdance menjadi sangat terkenal dan populer pada tahun 80an, namun kemudian dihentikan oleh media juga di dekade yang sama. Pada saat itu pihak media tidak lagi tertarik mengulas berita-berita mengenai breakdance. Meskipun begitu, para b-boy dan b-girl (sebutan untuk orang-orang yang melakukan breakdance) tidak hilang semangat dan terus berlatih Di Indonesia, breakdance disebut juga sebagai Tari Kejang. Karena menurut para pejabat yang pada masa itu sedang mengkampanyekan penggunaan bahasa Indonesia pada bahasa Inggris, gerakan-gerakan yang diperagakan dalam breakdance seperti gerakan orang kejang yang tersengat listrik Breakdance sempat menjadi tren di kalangan anak muda pada era 1980-an, yang ditandai dengan banyak bermunculannya penari-penari jalanan yang beraksi dengan alas kardus bekas dan tape dibopong . Di berbagai tempat, anak-anak muda menggelar aksinya menyerupai orang-orang Amerika pada saat itu untuk mempertontonkan keahlian mereka kepada khalayak umum secara tidak langsung Namun ternyata aksi mereka ini sempat membuat gerah berbagai pihak, terutama kekhawatiran aparat keamanan, pendidikan, keagamaan, dan sebagainya pada berbagai kecenderungan akan adanya ketidaktertiban di berbagai kawasan kota, akibat ulah kalangan anak muda yang membentuk kerumunan.


 

 Mereka khawatir apabila kerumunan itu tiba-tiba bergolak dalam kekuatan massa, dan meledak menjadi pemicu dari protes akan kemapanan Orde Baru Maka ketika masuk ke era awal 1990-an, para penari jalanan ini pun berangsur-angsur hilang tinggal kenangan . Sebenarnya sekitar pertengahan tahun 1990-an, tren breakdance sudah mulai kelihatan lagi. Di Jakarta ditandai dengan munculnya tim breakdance Midi Circus yang sering berlatih di kawasan Senayan Tapi, lagi-lagi tren ini harus mundur seiring gempuran tren musik ska dan klasik disko yang mulai menjalar di kuping anak muda. Jadi, wajar-wajar saja kalau pada akhirnya breakdance tidak dilirik lagi Namun b-boy yang ada pada saat itu tidak kenal menyerah. Mereka masih sering berlatih walaupun dalam komunitas kecil. Untungnya, ada musik hip hop yang datang sebagai penyelamat. Di tengah gempuran musik ska, musik hip hop tetap punya pasar sendiri di industri musik dunia. Ketika musik rap Indonesia menjamur di akhir 1990-an, breakdance mulai ikut muncul di tiap penampilannya Ketika pamor breakdance di Indonesia secara perlahan mulai meningkat, otomatis para b-boy banyak yang membentuk komunitas sendiri. Mereka menyebutnya dengan istilah crew. Setiap crew biasanya berisi 5 sampai 30 orang. Mereka ini sebenarnya adalah para b-boy yang kebetulan sering berlatih bersama di satu tempat. Tapi pada perkembangannya, tim ini menjadi sebuah tim solid yang menjadi wadah untuk mempertajam jurus . Di Surabaya terdapat sebuah kelompok breakdance yang keberadaannya cukup eksis, yaitu City Warrior. Berdiri sejak awal tahun 2003, City Warrior bukan hanya sebuah kelompok breakdance saja, melainkan juga sebuah kelompok yang bergerak di bidang jasa hiburan atau entertainment, khususnya pengisi acara dalam ulang tahun Sweet Seventeen. Kelompok ini didirikan atas keinginan untuk mengembangkan dan memasyarakatkan breakdance di Surabaya. Selain itu juga bertujuan untuk memenuhi tingginya permintaan akan penampilan breakdance untuk memeriahkan berbagai acara. City Warrior didirikan oleh 4 orang yang mempunyai persamaan visi, yaitu Sunny, Marcel, Rio, dan Sun Lie yang sama-sama telah berlatih dasar-dasar breakdance. Namun pada awal perkembangannya, Marcel memutuskan untuk berhenti dengan suatu alasan. Sehingga pada saat itu, City Warrior dipimpin oleh 3 orang dengan Sunny sebagai Ketua sekaligus instruktur di kelas senior; Sun Lie sebagai instruktur di kelas junior, dan Rio sebagai instruktur di kelas pemula. Adapun target audience yang dituju City Warrior, yaitu pria dan wanita usia remaja hingga dewasa (14 - 25 tahun), berpendidikan SMP, SMA, lulus SMA, kelas middle-up, berkepribadian aktif, sporty, berjiwa muda, dan dinamis. Sejak didirikan, City Warrior mempunyai visi yang hendak dicapai di masa yang akan datang. Mereka ingin mengembangkan dan memasyarakatkan breakdance, serta berkeinginan untuk menjadi sebuah kelompok yang berkualitas sehingga dapat bersaing dengan kelompok lain yang mempunyai kualitas yang lebih tinggi. Untuk mencapai cita-citanya tersebut, maka City Warrior mempunyai beberapa misi yang harus diwujudkan, yaitu meningkatkan kemampuan dan penampilan para anggota melalui latihan-latihan yang aktif dan intensif, serta memberikan penampilan yang berkualitas agar berkesan. Pada pertengahan tahun 2006 terjadi perubahan dalam kepengurusan City Warrior, dimana Sunny yang saat itu menjabat sebagai Ketua memutuskan untuk mengundurkan diri karena alasan pribadi. Sejak saat itu jabatan Ketua dipegang oleh Sun Lie, dan Rio sebagai Wakil Ketua. Dan sejak awal tahun 2007, Rio memutuskan untuk berhenti dengan alasan pekerjaan. Hingga akhirnya seluruh kepengurusan dipegang oleh Sun Lie hingga saat ini. Seiring berjalannya waktu, maka mulai banyak bermunculan kelompok breakdance, terutama yang memilih jalur entertainment. Tentu saja untuk menghadapi persaingan ini diperlukan strategi-strategi untuk memantapkan keberadaan City Warrior. Sejak didirikan hingga saat ini, City Warrior belum pernah melakukan serangkaian program promosi yang aktif. Selama ini promosi yang ada hanya dilakukan melalui mulut ke mulut (word of mouth). Sedangkan kelompok lain ada beberapa yang mulai berpromosi dengan mencari sponsor menyebarkan brosur, dan lain sebagainya. Namun dalam hal ini City Warrior memiliki beberapa keuntungan, antara lain merupakan pioneer sebagai pengisi acara yang menampilkan breakdance di Surabaya. Selain itu City Warrior juga memiliki jam terbang yang tergolong banyak, yang secara tidak langsung telah membentuk kekompakan kelompok, terutama ketika sedang tampil. Dengan adanya keuntungan ini, maka City Warrior masih memiliki peluang yang cukup besar dalam mempertahankan keberadaannya terutama untuk memenangkan persaingan yang ada. Oleh karena itu kegiatan promosi yang aktif diperlukan beberapa gambar para bboy indonesia yang sedang menghadapi event event terbesar di indonesia.

No comments:

Post a Comment